Motivator Indonesia | Public Speaking Indonesia | 4 Teknik Melatih Gen Z di Garda Depan

“The single biggest problem in communication is the illusion that it has taken place.” — George Bernard Shaw

Generasi Z kini menjadi bagian penting dunia kerja, termasuk di peran garis depan seperti ritel, perhotelan, dan layanan cepat saji. Namun, banyak perusahaan masih berjuang memahami kebutuhan mereka. Gen Z bukanlah “malas” atau “manja” seperti stereotip yang beredar, melainkan generasi yang menghadapi realitas kerja berbeda dan butuh pendekatan pelatihan baru. Berikut 4 teknik melatih gen z yang bisa diterapkan agar siap berada di garda terdepan:

Baca juga:4 Strategi Program Pemimpin Masa Depan

1. Kembali ke Dasar
Banyak pekerja Gen Z tidak terbiasa dengan keterampilan yang dulu dianggap remeh, seperti menjawab telepon atau menyapa pelanggan. Pelatihan dasar sangat penting, mulai dari komunikasi langsung hingga etika kerja, namun tetap disesuaikan dengan kebutuhan individu. Dengan pendekatan ini, kepercayaan diri mereka akan meningkat, dan loyalitas pun terbentuk.

2. Lengkapi Manajer Anda
Gen Z sangat membutuhkan bimbingan, tetapi hanya 38% yang benar-benar mendapatkannya dari manajer mereka (Axonify, 2024). Manajer garis depan harus diberi alat, waktu, dan pelatihan untuk benar-benar memimpin, bukan sekadar sibuk dengan tugas administratif. Dengan dukungan tersebut, manajer bisa menjadi mentor yang hadir dan relevan bagi Gen Z, sehingga menciptakan rasa percaya dan arah yang jelas.

3. Fokus pada Koneksi
Bagi Gen Z, pekerjaan bukan hanya soal gaji, tetapi juga rasa memiliki. Faktanya, 86% karyawan Gen Z menyatakan budaya dan koneksi adalah faktor penting dalam memilih tempat kerja. Perusahaan bisa mendorong keterhubungan dengan cara sederhana, seperti program teman kerja, acara komunitas, hingga platform komunikasi internal. Rasa kebersamaan inilah yang membuat mereka bertahan lebih lama, bahkan saat pekerjaan menantang.

4. Rangkul Generasi Z
Sebanyak 83% pekerja Gen Z melaporkan mengalami kelelahan. Ini menunjukkan perlunya empati dan strategi pelatihan yang realistis. Perusahaan tidak harus memanjakan Gen Z, tetapi perlu bertemu mereka di titik awal—memberikan pelatihan dasar, bimbingan berkelanjutan, serta lingkungan yang mendukung koneksi. Dengan begitu, Gen Z bukan hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai aset jangka panjang.

Mengabaikan kebutuhan Gen Z berarti mempertaruhkan masa depan tim garis depan Anda. Dengan pelatihan yang tepat, dukungan manajerial yang kuat, serta budaya kerja yang inklusif, perusahaan bukan hanya membantu Gen Z beradaptasi, tetapi juga menciptakan fondasi yang kokoh bagi kesuksesan seluruh organisasi.

Sumber: Dillon, JD. 2025. Fixing the Gen Z Disconnect: Rethink Your Front-Line Training Approach. Diakses pada 21 Agustus 2025. https://trainingindustry.com/articles/onboarding/fixing-the-gen-z-disconnect-rethink-your-front-line-training-approach/

Mari Tingkatkan kemampuan diri Anda dengan klik publicspeakingacademy.co.id atau Untuk menanyakan mengenai Training Motivation Mastery atau Training Public Speaking silahkan hubungi Ms. Aura 081271940909.

Demikian Saya Ongky Hojanto
Pakar Public Speaking Indonesia versi koran Kontan
Penulis Buku Best Seller Public Speaking Mastery Versi Gramedia Pustaka Utama
Founder Public Speaking Academy

Klik Disini : Bangkit dari kegagalan
Semoga bermanfaat !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2025 Public Speaking Academy